Melihat Antasari mantan ketua KPK hadir di Mata Najwa semalam, saya
jadi teringat dengan kisah pembunuhan fiksi cinta segitiga di era SBY
yang sangat lebay dan janggal. Ibarat film, banyak bagian yang kurang
masuk akal.
Sejak seword booming dengan beberapa artikel Pakar Mantan menjawab,
sebenarnya sudah ada banyak sekali yang inbox dan ingin agar kasus
Antasari dibahas. Tapi penasehat hukum saya mengatakan sebaiknya tidak
dibahas, sebab Antasari sebentar lagi akan dibebaskan. Dibanding membuka
luka lama dan berpotensi mengusik penguasa yang dulu, lebih baik
biarkan Antasari keluar dengan tenang.
Alasan tersebut sangat masuk akal. Jadi apapun yang ingin saya bahas
tentang Antasari akhirnya dibatalkan. Sebab kadang untuk mencapai tujuan
baik, kita harus melupakan beberapa kejahatan.
Tapi semalam Antasari sudah berbicara secara lugas dan jelas, untuk
itu saya berani ikut menuliskannya. Sebagai catatan sejarah bahwa negara
ini pernah mengalami skenario pembunuhan yang terstruktur, sistematis
dan massif untuk memenjarakan seorang ketua KPK.
Jadi begini para pembaca seword.com yang ganteng, cantik, baik hati,
rajin dan tidak sombong. Kasus fiktif Antasari ini diskenariokan
seolah-olah Antasari membunuh Nasrudin Zulkarnaen karena motif cinta
segitiga. Jadi Antasari diskenariokan rebutan Rani Juliani dengan
Nasrudin. Lalu Antasari menyuruh orang untuk membunuh Nasrudin. Setelah
itu ditangkaplah Antasari sebagai dalang (otak) dari pembunuhan
berencana.
Namun semua cerita tersebut semalam dibantah langsung oleh Antasari:
“Saya tegaskan malam ini, tidak ada cinta segitiga, omong kosong itu
semua. Dan saya tidak lakukan pembunuhan, apalagi otaknya,” ucap
Antasari Azhar saat awal duduk di meja Mata Najwa.
“Opini yang dibangun memang begitu. Tapi putusan yang saya terima
tidak seperti itu. Ini yang mungkin publik tidak memahami. Saya dituduh
turut serta membunuh. Masalahnya, saya turut serta siapa? Sejak saya di
PN, banding, kasasi, sampai PK itu (tuduhannya) turut serta. Bukan otak
pembunuhan,” lanjut Antasari Azhar.
Kasus pembunuhan Nasrudin menjadi semakin menarik karena keluarga
korban malah berpihak pada Antasari, mereka mendorong agar kasus ini
dibuka dan dicari tau dalangnya.
“Dari awal saya dengar kasus ini, saya yakin bahwa Antasari Azhar
memang bukan pelakunya. Pada saat itu saya berkata, ada orang besar,
pejabat besar, yang menjadi dalang dari pembunuhan saudara saya. Yang
jelas orang besar itu punya kekuasaan, mampu menggerakkan siapa saja,
itulah org besar. Kalau Pak Antasari, Ketua KPK, tidak punya kemampuan
apa-apa dia,” kata Andi Syamsudin, adik kandung almarhum Nasrudin.
Andi juga bercerita bahwa tidak terlalu kaget kalau kakaknya dibunuh.
Sebab beberapa hari sebelumnya Nasrudin sudah cerita sedang diancam dan
diteror.
“Yg jelas banyak yang dia (Nasrudin) ketahui, di dalam perusahaan
BUMN itu sendiri. Tapi tidak bisa saya utarakan di sini,” kata Andi
Syamsudin.
Melihat Andi Syamsudin, keluarga korban atau adik Nasrudin berubah
haluan memihak pada Antasari, dan menginginkan pembunuh aslinya
ditangkap, maka pengacara keluarga Nasrudin juga berbalik memihak
Antasari.
“Ketika Pak Andi tidak percaya dan ingin bersama Pak Antasari
mengungkap siapa pembunuhnya, saya otomatis ikut. Dosa apapun saya
kurang teliti waktu itu. Harusnya saya melihat SMS dulu yang benar, buka
HP-nya. Saya cuma dijanjikan saja, dan kemudian dikatakan Pak Andi
sudah melihat, ternyata belum, jadi diadu domba saja,” kata Boyamin
Saiman, pengacara Nasrudin.
“Itu setting-an yg cukup piawai, namun settingan apapun suatu saat akan terbongkar,” Andi Syamsudin.
SMS yg dimaksud adalah SMS ancaman yang diberikan Antasari Azhar
kepada Nasrudin Zulkarnaen. Namun sebenarnya SMS tersebut pun hanya
rekayasa.
Apa dosa Nasrudin?
Sebelum meninggal, Nasrudin melaporkan pada KPK terkait adanya kasus
korupsi di tempatnya bekerja, PT Rajawali Nusantara Indonesia. Nasrudin
merupakan salah satu saksi kunci kasus yang sudah menempatkan mantan
Dirut PT RNI Rama Prihandana serta mantan Direktur Keuangan RNI Ranendra
Dangin, sebagai tersangka. Korupsi itu terjadi antara tahun 2004 hingga
tahun 2007, Nasrudin sempat menjabat sebagai staf ahli di PT RNI. Ia
disebut-sebut paling banyak tahu dugaan korupsi impor gula pasir putih
yang dilakukan atas kerja sama PT RNI dengan Bulog itu.
Faktor Nasrudin melapor ke KPK dan menjadi saksi kunci inilah yang
kemudian menjadi alasan paling masuk akal mengapa Nasrudin harus
dilenyapkan, karena berpotensi membongkar mega korupsi Bulog dan BUMN.
Apa dosa Antasari?
Sebelum terkena kasus pembunuhan fiktif Nasrudin, Antasari telah
memenjarakan banyak koruptor. Namun yang paling tidak bisa diampuni
adalah besan SBY, Aulia Pohan, juga ikut dipenjarakan atas kasus korupsi
pencairan dana yayasan BI sebesar 100 milyar. Aulia Pohan hanyalah
salah satu dari beberapa orang BI yang juga diciduk KPK era Antasari.
SBY dikabarkan marah besar karena besannya sendiri terkena kasus
korupsi dan dipenjara. Apalagi saat itu menjelang Pemilu 2009. Namun SBY
memang cerdas. Dalam kondisi tertekan seperti itu, SBY malah
memanfaatkan ditangkapnya Aulia Pohan untuk menunjang citra baiknya.
“Demokrat anti korupsi. SBY tak pandang bulu, bahkan besannya pun
dipenjara,” begitulah opini publik yang terbentuk saat itu dan berhasil
meyakinkan banyak orang untuk memilih SBY.
Skenario 2 pulau terlampaui
Pernyataan Andi Syamsudin semalam yang menyebut ada “orang besar”
sebagai dalang pembunuhan Nasrudin adalah sebuah pernyataan yang sangat
mudah dipahami.
“Yang jelas orang besar itu punya kekuasaan, mampu menggerakkan siapa
saja, itulah org besar. Kalau Pak Antasari, Ketua KPK, tidak punya
kemampuan apa-apa dia,” kata Andi Syamsudin.
Jika harus ditafsirkan, maka orang besar yang disebutkan bisa kita
artikan Presiden SBY atau Kapolri, mengingat ini adalah kasus pembunuhan
berencana dan pasti ditangani Polisi. Kalau Jenderal TNI kan tidak ada
urusan dengan pembunuhan atau korupsi. Kalau ketua DPR, MPR dan DPD,
sekalipun orang besar tapi tidak bisa melakukan apa saja dalam hal
skenario pembunuhan.
Kalau melihat dari faktor sebab akibat, maka Kapolri juga tidak
memiliki kepentingan apa-apa terhadap KPK, mengingat saat itu institusi
Polri tidak sedang terlibat kasus korupsi.
Jadi kalau adik Nasrudin mengatakan ada orang besar sebagai dalang
pembunuhan Nasrudin, saya pikir orang besar tersebut adalah si
titik-titik. Itu yang besannya dipenjara karena koupsi. Motifnya karena
sakit hati, dendam dengan Antasari.
Tujuan utamanya adalah Antasari. Bagaimana caranya agar ketua KPK ini
lengser. Sementara kenapa harus mengorbankan nyawa Nasrudin? Jawaban
logisnya karena saat itu Nasrudin ikut membongkar kasus korupsi.
Hasilnya, berhasil memenjarakan Antasari dengan bonus menutup kesaksian
Nasrudin.
Jika pernyataan adik Nasrudin benar bahwa ada orang besar sebagai
dalang, maka kemungkinannya si orang besar memanfaatkan orang yang tidak
suka dengan Nasrudin untuk bekerjasama, dengan jaminan backup dari
seluruh institusi penegak hukum. Sebab si orang besar kan punya
kekuasaan dan menggerakan siapa saja.
Pembunuhan kolabrasi
Andi Syamsudin semalam juga menyatakan memiliki rekaman orang-orang
yang mengajaknya kolaborasi agar Antasari bisa dipastikan masuk penjara.
“Jadi ini Polisi (yang mengajak anda kolaborasi)?” Tanya Najwa Shihab semalam.
“Kalau mbak menyebut polisi, saya katakan orang. Orang itu ada
macam2. Ada polisi, jaksa, ada siapapun juga. Perwira polisi. Soal siapa
orangnya dan apa pangkatnya sekarang saya tdk perlu sebut,” jawab Andi
Syamsudin mantap.
Andi ditantang untuk membuka rekaman tersebut, namun dirinya
mengatakan dengan syarat Antasari sudah berani. Kalau sekarang Antasari
belum siap.
“Apa yang anda takutkan Pak Antasari?” Tanya Najwa.
Antasari hanya menjawab santai “Saya tidak takut, saya hanya takut
sama Allah. Suatu ketika Pak Andi buka semua, seperti doa saya.”
Kenapa Antasari tidak membongkar semuanya?
Mengapa kasus ini tidak dibuka saja secara gamblang? Apa susahnya?
Dan mungkin masih banyak pertanyaan teman-teman pembaca seword. Jika
anda salah satu yang bertanya seperti itu, saya ada sedikit jawaban.
Antasari mungkin sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri, 7 tahun
mendekam di penjara bukan waktu yang sebentar. Kalau ada dendam yang
perlu dibalaskan, maka itu pasti si orang besar tadi. Namun Antasari
punya anak-anak yang masih panjang masa depannya. Inilah kenapa Antasari
tidak mau membukanya, karena dia sudah cukup menderita 7 tahun tidak
dengan keluarga. Antasari tentu tidak ingin mewariskan derita pada
keturunannya.
Wajar kalau kemudian Antasari menyatakan “Itu semua diatur, saya tahu
semua. Tapi saya pikir tidak saya, Allah yg akan membuka itu semua.”
Antasari korban kejam dan kejinya rezim SBY
“Anak peluru yg dikatakan Mun’im Idris itu 9mm, sementara barang
bukti yg digunakan bukan 9mm. Bahkan dari 2 anak peluru yg ditemukan di
tubuh korban, berasal dari 2 senjata yg berbeda. Dia (Munim Idris)
diminta utk mengatakan bahwa anak peluru ini sesuai dgn bukti senjata yg
dibawa ke persidangan,” ucap Maqdir Ismail.
“Apakah Mun’im Idris tdk menyebutkan nama orang yg menyuruh mengubah keterangan?” Kejar Najwa Shihab.
“Dia tidak menyebut nama (yang meminta), dia hanya menyebut
pangkatnya seseorang,” jawab Maqdir Ismail. Sementara di waktu yang
bersamaan Antasari bersuara lirih “Kombes.”
Kesaksian Andi Syamsudin, Boyamin Saiman, sampai dokter forensik
almarhum Munim Idris adalah indikator sempurna bahwa pembunuhan ini
memang rekayasa si orang besar.
Bahwa ada beberapa pernyataan yang menyebut adanya keterlibatan
Polisi, saya pikir itupun karena faktor si orang besar yang bisa
menggerakan dan mengatur dengan kekuasaannya.
Suka tidak suka, kasus Antasari ini terjadi di era SBY yang perutnya
besar. Sebuah pembunuhan berencana dengan mudah diskenariokan dan
dituduhkan pada Antasari agar lengser dari ketua KPK, karena saat itu
sedang semangat membantas korupsi.
Lihatlah betapa kejam dan kejinya rezim SBY. Dari Polisi sampai
dokter forensik diatur paksa untuk mendukung sebuah skenario pembunuhan
agar Antasari lengser dari ketua KPK dan dipenjara.
Begitulah kura-kura.



No comments:
Post a Comment